Pelindo Multi Terminal Menjaga Nadi Energi Bali, Terminal LNG Benoa Ditata untuk Masa DepanPenulisan

Denpasar  — Di balik gemerlap pariwisata Pulau Dewata, ada denyut energi yang tak boleh berhenti. Lampu-lampu kota, aktivitas ekonomi, hingga geliat kehidupan masyarakat Bali membutuhkan pasokan energi yang terus mengalir, andal, dan terjaga.

Di titik penting itulah PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) mengambil peran. Anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang mengelola terminal nonpetikemas di berbagai wilayah Indonesia tersebut terus memastikan Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) Benoa tetap menjadi bagian penting dalam mata rantai pasok energi bagi Bali dan wilayah sekitarnya.

Penataan kawasan Pelabuhan Benoa kini membawa perubahan pada posisi fasilitas tersebut. Terminal LNG yang sebelumnya berada di kawasan Bali Cruise Ship Terminal (BCST) direlokasi menuju Area Pengembangan 2 (AP2) Bali Maritime Tourism Hub (BMTH).

Namun, perpindahan lokasi bukan berarti terhentinya denyut pelayanan.
Relokasi tersebut merupakan bagian dari penataan dan pengembangan BMTH sebagai Program Strategis Nasional, sekaligus upaya menata kawasan pelabuhan agar fungsi pariwisata maritim dan infrastruktur energi dapat berjalan berdampingan secara terintegrasi.

Di tengah proses tersebut, aktivitas Terminal LNG Benoa tetap menunjukkan pergerakan yang signifikan.

Hingga Agustus 2026, arus bongkar muat LNG tercatat mencapai 11,05 juta MMBtu, atau tumbuh 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada pada angka 10,65 juta MMBtu.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Di balik jutaan MMBtu tersebut terdapat kebutuhan energi yang menopang aktivitas masyarakat, perekonomian, serta sektor kelistrikan di Bali—daerah yang setiap hari bergerak bersama denyut pariwisata dan aktivitas ekonomi yang begitu dinamis.

Direktur Utama Pelindo Multi Terminal, Sugeng Mulyadi, menegaskan bahwa keberadaan Terminal LNG Benoa memiliki posisi strategis dalam mendukung kebutuhan energi di Pulau Dewata.

Karena itu, penataan fasilitas dilakukan dengan mempertimbangkan kesinambungan layanan, kesiapan infrastruktur, keselamatan operasional, serta kebutuhan energi yang terus berkembang.

“Pelindo Multi Terminal berkomitmen menjaga keandalan operasional Terminal LNG Benoa untuk mendukung ketahanan energi di Bali dan sekitarnya. Relokasi ke Area Pengembangan 2 merupakan bagian dari penataan kawasan BMTH, namun fungsi terminal sebagai bagian dari rantai pasok energi tetap kami jaga agar dapat beroperasi secara optimal,” ujar Sugeng.

Terminal LNG Benoa sendiri ditopang sejumlah fasilitas strategis, termasuk Floating Regasification Unit (FRU) dan Floating Storage Regasification Unit (FSRU), berikut terminal serta jaringan perpipaan yang terintegrasi.

Salah satu fasilitas penting adalah FRU Lumbung Dewata, yang memiliki kapasitas regasifikasi mencapai 41 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day).

Gas yang telah melalui proses regasifikasi selanjutnya dialirkan melalui jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan PLTD Pesanggaran, yang menjadi bagian dari sistem penyediaan energi listrik di Bali.

Di sinilah pelabuhan tidak hanya berbicara tentang kapal yang datang dan pergi.

Pelabuhan juga menjadi ruang tempat berbagai kepentingan bertemu—logistik, energi, perdagangan, pariwisata, hingga kebutuhan masyarakat. Karena itu, penataan Terminal LNG Benoa diarahkan agar perkembangan kawasan pariwisata maritim tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlangsungan infrastruktur energi.

Relokasi FRU dan FSRU menuju AP2 dilakukan sejalan dengan pengembangan Bali Maritime Tourism Hub sebagai kawasan pariwisata maritim yang mendukung aktivitas kapal pesiar dan yacht internasional.

Dengan konsep tersebut, wajah Pelabuhan Benoa perlahan bergerak menuju kawasan yang lebih terintegrasi. Pariwisata dapat tumbuh, sementara infrastruktur energi tetap menjalankan perannya sebagai salah satu penopang kehidupan dan aktivitas ekonomi Bali.

Bagi Pelindo Multi Terminal, penataan Terminal LNG Benoa juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kapabilitas operasional dan mengoptimalkan aset infrastruktur dalam mendukung transformasi BUMN yang sejalan dengan agenda strategis Danantara Indonesia.

Lebih dari sekadar memindahkan fasilitas, langkah tersebut menjadi bagian dari proses menata masa depan kawasan pelabuhan—agar pelabuhan mampu menjawab kebutuhan hari ini sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan yang akan datang.
Pada saat yang sama, aspek keberlanjutan menjadi perhatian dalam pengelolaan terminal.

Pemanfaatan LNG sebagai energi dengan emisi lebih rendah dibandingkan sejumlah bahan bakar fosil konvensional menjadi bagian dari dinamika transisi menuju sistem energi yang lebih bersih. Dalam konteks tersebut, Terminal LNG Benoa memiliki peran dalam mendukung kebutuhan energi sekaligus arah pengembangan yang memperhatikan aspek lingkungan.
Sugeng menegaskan, penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) tidak berhenti pada persoalan lingkungan semata.

“Kami terus mendorong pengelolaan terminal yang memperhatikan keberlanjutan, termasuk melalui dukungan terhadap penggunaan energi yang lebih rendah emisi. Bagi Pelindo Multi Terminal, penerapan ESG bukan hanya terkait aspek lingkungan, tetapi juga bagaimana memastikan operasional berjalan aman, efisien, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pengelolaan Terminal LNG Benoa menjadi salah satu langkah kami untuk mendukung hal tersebut,” tutup Sugeng.

Di tengah Bali yang terus tumbuh dan berubah, energi tetap menjadi salah satu nadi yang menjaga kehidupan tetap bergerak.

Dan dari kawasan Pelabuhan Benoa, nadi itu terus dijaga—ditata, diperkuat, dan dipersiapkan untuk menopang Bali hari ini hingga masa depan.

Humas/indra

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama