Marelan, — Ketika sebagian besar warga sedang terlelap, ketenangan malam di Jalan Jala 9, Lingkungan 04, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, mendadak pecah.
Sekitar pukul 01.45 WIB, Minggu (20/9/2026), warga yang dikenal dengan sebutan Gg Kambing dikejutkan oleh keributan dan aksi lemparan batu yang disebut mengarah ke rumah-rumah warga.
Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat berubah menjadi kepanikan. Warga berhamburan keluar rumah setelah mendengar suara gaduh dan melihat sekelompok anak muda yang disebut datang berkonvoi menggunakan sepeda motor.
Menurut keterangan warga, kelompok tersebut diduga berasal dari Lingkungan I Paluh Nibung dan beberapa lingkungan lainnya di Kelurahan Paya Pasir.
Situasi semakin membuat warga resah lantaran sejumlah orang disebut membawa batu serta benda yang diduga menyerupai senjata tajam berukuran panjang.
Warga mengaku tidak mengetahui secara pasti apa pemicu kedatangan kelompok tersebut. Namun, yang mereka rasakan hanya satu: ketakutan.
Rumah-rumah warga yang semestinya menjadi tempat paling aman pada tengah malam justru terasa berada dalam bayang-bayang ancaman.
“Warga baru tidur, tiba-tiba terbangun karena suara keributan. Kami panik. Ada lemparan batu dan anak-anak muda datang beramai-ramai,” ujar Nurlinsyah Sinaga, warga setempat.
Menurut warga, aksi tersebut membuat masyarakat tidak dapat kembali beristirahat. Kekhawatiran semakin besar karena mereka takut keributan berubah menjadi bentrokan yang lebih luas dan menimbulkan korban.
WARGA MENCARI PERLINDUNGAN, TELEPON APARAT DISEBUT TAK TERJAWAB
Di tengah situasi yang disebut mencekam tersebut, warga berupaya meminta bantuan dan menghubungi aparat kepolisian.
Namun, menurut keterangan warga, upaya menghubungi Kapolsek Medan Labuhan melalui telepon dan WhatsApp belum mendapatkan respons.
Kanit Reskrim Medan Labuhan juga disebut belum menjawab ketika dihubungi. Hal serupa disampaikan warga terkait upaya menghubungi Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar soal telepon yang tidak terjawab.
Ketika suasana kampung sedang gaduh dan masyarakat merasa terancam, respons cepat aparat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan.
“Kalau kami telepon dan WhatsApp saat kondisi seperti ini, kami berharap diangkat atau dijawab. Kami hanya ingin merasa aman dan bisa kembali beristirahat,” ujar warga.
Tidak lama kemudian, dua personel Koramil 10 Medan Marelan disebut tiba di lokasi bersama Lurah Paya Pasir. Kehadiran mereka menjadi salah satu upaya untuk meredakan ketegangan di tengah keresahan masyarakat.
Namun pertanyaan warga belum berhenti.
Sampai kapan masyarakat harus dihantui tawuran di tengah malam?
Sampai kapan warga harus terbangun dari tidur karena suara keributan dan lemparan batu?
Dan yang paling penting, siapa yang menjamin keselamatan warga apabila keributan kembali terjadi?
WARGA MINTA PEMKO MEDAN TURUN TANGAN
Warga Gg Kambing berharap kejadian tersebut tidak dianggap sebagai persoalan kecil.
Marwan Pane, warga setempat, meminta Wali Kota Medan Rico Waas memberikan perhatian serius terhadap keresahan masyarakat dengan menginstruksikan camat, lurah dan perangkat kepala lingkungan untuk meningkatkan pengawasan serta langkah pencegahan terhadap potensi tawuran.
“Kami meminta Pak Wali Kota Medan memerintahkan camat, lurah dan perangkat kepling agar lebih mengantisipasi tawuran seperti ini. Jangan sampai warga yang tidak tahu apa-apa menjadi korban,” tegas Marwan.
Warga juga berharap aparat penegak hukum melakukan langkah pencegahan dan penanganan sesuai kewenangan apabila memang ditemukan adanya tindak pidana dalam kejadian tersebut.
Sebab bagi masyarakat Gg Kambing, persoalannya bukan sekadar keributan sesaat.
Ini menyangkut rasa aman.
Di balik pintu-pintu rumah yang tertutup rapat, ada keluarga yang ingin tidur dengan tenang. Ada orang tua yang cemas terhadap anak-anaknya. Dan ada warga yang berharap ketika malam kembali turun, kampung mereka tidak lagi berubah menjadi tempat yang membuat mereka harus berjaga dalam ketakutan.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya memperoleh keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kejadian tersebut, termasuk mengenai kronologi, langkah penanganan, kemungkinan adanya korban maupun kerusakan.
Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini.
Indra/red
Posting Komentar