TEBING TINGGI — Di balik tembok tinggi yang memisahkan dunia luar dengan kehidupan para warga binaan, malam tak selalu tentang pintu yang terkunci dan jeruji besi.
Di sana ada manusia yang sedang menjalani masa pembinaan. Ada keluarga yang menunggu kepulangan. Ada harapan yang ingin tetap dijaga agar suatu hari nanti mereka dapat kembali ke tengah masyarakat dengan kehidupan yang lebih baik.
Karena itulah, ketika malam mulai turun di Kota Tebing Tinggi, Kamis (24/9/2026), personel gabungan kembali bergerak.
Satuan Brimob Polda Sumatera Utara melalui personel Batalyon B bersama unsur TNI, Polri, BNN dan jajaran Lapas Kelas IIB Tebing Tinggi melaksanakan patroli sekaligus razia kamar warga binaan.
Bukan sekadar pemeriksaan biasa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar lingkungan pemasyarakatan tetap aman, tertib dan jauh dari berbagai benda yang dapat memicu gangguan keamanan.
Sebelum berangkat, personel Brimob melaksanakan apel pengecekan di Kesatrian Paino S.K. Mako Batalyon B Satbrimob Polda Sumut.
Selanjutnya, pasukan bergerak menuju Lapas Kelas IIB Tebing Tinggi di bawah pimpinan Danton 2 Kompi 1 Batalyon B Satbrimob Polda Sumut, Ipda Rudy Darmawan.
Setibanya di lapas, seluruh personel mengikuti apel koordinasi yang dipimpin Kepala Lapas Kelas IIB Kota Tebing Tinggi, Bahtiar Sembiring, S.H.
Personel Koramil Tebing Tinggi, BNN Tebing Tinggi, Polres Tebing Tinggi dan jajaran lapas kemudian bergerak bersama melakukan pemeriksaan sejumlah kamar warga binaan.
Pintu-pintu kamar dibuka. Ruang demi ruang diperiksa. Di balik tempat-tempat sederhana itu, petugas menemukan sejumlah barang yang dilarang, di antaranya mancis, pisau cutter, kartu dan potongan kayu.
Barang-barang tersebut kemudian diamankan dan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Namun malam itu tidak hanya berbicara tentang benda-benda terlarang.
Petugas juga melakukan tes urine terhadap 20 warga binaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel dinyatakan negatif.
Sebuah hasil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki arti penting dalam menjaga proses pembinaan tetap berjalan di jalurnya.
Sebab di balik setiap warga binaan, ada keluarga yang menunggu. Ada orang tua yang berharap anaknya berubah. Ada pasangan yang masih setia menanti. Ada anak-anak yang mungkin hanya ingin kembali memeluk ayah atau ibunya.
Karena itu, keamanan di dalam lapas bukan semata-mata tentang menjaga tembok dan pintu besi.
Lebih jauh, keamanan adalah bagian dari upaya menjaga proses pembinaan dan harapan agar mereka yang sedang menjalani masa hukuman tidak kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumut, Kombes Pol. M. Rendra Salipu, S.I.K., M.Si., menegaskan pentingnya sinergi lintas instansi dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pemasyarakatan.
“Sinergi dan koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam menjaga situasi keamanan tetap kondusif. Setiap kegiatan pengawasan dan pemeriksaan dilaksanakan sebagai langkah preventif untuk mendukung terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang aman dan tertib,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib. Setelah pemeriksaan selesai, personel gabungan melaksanakan apel konsolidasi sebelum kembali ke kesatuan masing-masing.
Malam pun kembali sunyi.
Namun di balik sunyi tembok Lapas Tebing Tinggi, ada pesan yang jauh lebih dalam: bahwa keamanan harus dijaga, pembinaan harus dikawal, dan harapan manusia tidak boleh ikut terkunci bersama jeruji.
Karena pada akhirnya, setiap warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan suatu hari kembali pulang kepada keluarga yang mungkin hingga kini masih setia menunggu.
Indra/humas
Posting Komentar