Brimob Sumut Hadiri Pemahsyuran Sultan Langkat, Menjaga Warisan Melayu di Tengah Zaman

Langkt— Di tengah derasnya perubahan zaman, jejak sejarah dan marwah budaya Melayu kembali menemukan ruang untuk diteguhkan. Masjid Azizi, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, menjadi saksi berlangsungnya prosesi Pemahsyuran Sultan Langkat Tuanku Ariefanda Abdul Jalil Al-Hajj, Sabtu (19/9/2026).

Prosesi yang berlangsung khidmat tersebut turut dihadiri personel Satuan Brimob Polda Sumut melalui Batalyon A Pelopor. Kehadiran Polri bukan sekadar bagian dari pengamanan, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap adat, sejarah, dan warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Langkat.
Pasi Provos Batalyon A Pelopor Sat Brimob Polda Sumut, IPTU Indra Miswanto, hadir mewakili Satuan Brimob Polda Sumut dalam rangkaian prosesi tersebut.

Pemahsyuran Sultan Langkat menjadi momentum bersejarah bagi Kesultanan Langkat. Di dalamnya tersimpan makna tentang regenerasi, kesinambungan silsilah, serta upaya menjaga marwah dan identitas Kesultanan Melayu Langkat agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lebih dari sekadar sebuah prosesi adat, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku atau bangunan tua. Sejarah juga hidup melalui adat, tradisi, silsilah, nilai kebudayaan, serta penghormatan masyarakat terhadap para pendahulunya.

Sejumlah tokoh dan unsur penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya unsur Kesultanan Selangor Malaysia, Sultan Deli, Sultan Asahan, Sultan Serdang, Kapolsek Tanjung Pura, Kasat Samapta Polres Langkat, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Langkat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga Kesultanan atau tokoh adat semata. Ia merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat.

Bagi Brimob Polda Sumut, kehadiran dalam kegiatan adat dan budaya merupakan bagian dari upaya membangun kedekatan dengan masyarakat. Polisi tidak hanya hadir ketika keamanan membutuhkan kekuatan, tetapi juga ketika masyarakat merawat persaudaraan, tradisi, dan nilai-nilai kebudayaan.
Di tengah suasana prosesi yang penuh khidmat, silaturahmi antara kepolisian, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan masyarakat pun semakin erat.
Rangkaian Pemahsyuran Sultan Langkat tersebut berlangsung aman, tertib, dan lancar.

Dari Masjid Azizi Tanjung Pura, pesan sejarah kembali bergema: sebuah bangsa akan tetap memiliki akar selama generasinya tidak melupakan sejarah dan budayanya.
Dan di Langkat, warisan Melayu itu terus dijaga—bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang layak diwariskan kepada masa depan.

Indra/humas

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama